Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Desember 2009

Kisah Nenek Pemungut Daun

Dahulu di sebuah kota di Madura, ada seorang nenek tua penjual bunga cempaka. Ia menjual bunganya di pasar, setelah berjalan kaki cukup jauh. Usai jualan, ia pergi ke masjid Agung di kota itu. Ia berwudhu, masuk masjid, dan melakukan salat Zhuhur. Setelah membaca wirid sekedarnya, ia keluar masjid dan membungkuk-bungkuk di halaman masjid. Ia mengumpulkan dedaunan yang berceceran di halaman masjid.

Selembar demi selembar dikaisnya. Tidak satu lembar pun ia lewatkan. Tentu saja agak lama ia membersihkan halaman masjid dengan cara itu. Padahal matahari Madura di siang hari sungguh menyengat. Keringatnya membasahi seluruh tubuhnya. Banyak pengunjung masjid jatuh iba kepadanya.

Pada suatu hari Takmir masjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan itu sebelum perempuan tua itu datang. Pada hari itu, ia datang dan langsung masuk masjid. Usai salat, ketika ia ingin melakukan pekerjaan rutinnya, ia terkejut. Tidak ada satu pun daun terserak di situ. Ia kembali lagi ke masjid dan menangis dengan keras. Ia mempertanyakan mengapa daun-daun itu sudah disapukan sebelum kedatangannya. Orang-orang menjelaskan bahwa mereka kasihan kepadanya. “Jika kalian kasihan kepadaku,” kata nenek itu, “Berikan kesempatan kepadaku untuk membersihkannya.”

Singkat cerita, nenek itu dibiarkan mengumpulkan dedaunan itu seperti biasa. Seorang kiai terhormat diminta untuk menanyakan kepada perempuan itu mengapa ia begitu bersemangat membersihkan dedaunan itu. Perempuan tua itu mau menjelaskan sebabnya dengan dua syarat, pertama, hanya Kiai yang mendengarkan rahasianya, kedua, rahasia itu tidak boleh disebarkan ketika ia masih hidup. Sekarang ia sudah meniggal dunia, dan Anda dapat mendengarkan rahasia itu.

“Saya ini perempuan bodoh, pak Kiai,” tuturnya. “Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Saya tidak mungkin selamat pada hari akhir tanpa syafaat Kanjeng Nabi Muhammad saw. Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan satu shalawat kepada Rasulullah. Kelak jika saya mati, saya ingin Kanjeng Nabi menjemput saya. Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya membacakan shalawat kepadanya.”

Perempuan tua dari kampung itu bukan saja mengungkapkan cinta Rasul dalam bentuknya yang tulus. Ia juga menunjukkan kerendahan hati, kehinaan diri, dan keterbatasan amal dihadapan Allah swt. Lebih dari itu, ia juga memiliki kesadaran spiritual yang luhur. Ia tidak dapat mengandalkan amalnya. Ia sangat bergantung pada rahmat Allah. Dan siapa lagi yang menjadi rahmat semua alam selain Rasulullah saw.

Kisah Pemuda Penjual Keranjang

Apalah arti Kebahagiaan di dunia kalo akherat yang dituju terbengkalai. Dunia hanya sebatas...,senang sesaat. Seperti air yang dalam bejana kita minum dia akan habis. Tapi kebahagiaan yg ditujui akherat, meminta ridho dari-NYA. di sana akan kekal selamanya.
"Kalau akherat yg dicari maka dunia akan mengikuti".

Ada sekelumit cerita!!!

Pada masa Bani Israil ada seseorang pemuda yang ketampanannya tidak tertandingkan. dia bekerja sebagai penjual keranjang dari pelepah kurma. Pada suatu hari,saat dia berkeliling dengan membawa keranjang dagangannya,ada seseorang wanita yang keluar dari rumah seorang Bani Israil. Demi melihatnya,si wanita dengan cepat masuk kembali kedalam rumah untuk memberitahukan pada putri raja: "Di pintu tadi saya melihat seorang pemuda penjual keranjang. Tak pernah saya melihat pemuda setampan dia."
Sang putri berkata: "Suruh dia masuk"
Si wanita tadi keluar dan mengajak masuk pemuda itu. Setelah dia masuk,pintu dikunci rapat. Lalu datanglah sang putri raja menemuinya dengan wajah dan bagian lehernya terbuka.
Maka si pemuda berkata: "Hai, tutuplah (auratmu),semoga Allah memaafkanmu"
Dengan terus terang si wanita menjawab: "Kami tidak memanggilmu untuk membeli daganganmu,akan tetapi untuk melakukan sesuatu."
Si Wanita pun mulai menggoda dan merayunya.
Sementara pemuda itu berkata: "Takutlah kamu kepada Allah"
Sang Putri malah mengancam: "Bila kau tidak mengikuti keinginanku,kemauanku aku akan beritahukan kepada raja bahwa kau masuk untuk memaksa diriku berbuat macam-macam.
"Kemudian pemuda itu mengajukan permintaa:"Tolong sediakan untukku air untuk berwudhu.
Jawab sang putri:"Oh rupanya kau masih mencari alasan! pembantu,tolong sediakan untuknya air wudhu untuk diatas mahligai itu, sebuah tempat yang tidak mungkin pemuda itu bisa kabur lagi...kalau bisa hanya mati."

Setelah pemuda itu tiba di mahligai,dia berdo'a: "Ya Allah,Sungguh aku sekarang telah diajak untuk bermaksiat kepadaMU, tetapi aku memilih untuk melemparkan diri dari atas mahligai ini keluar kamar dan tidak jatuh dalam perbuatan dosa.

Kemudian dia membaca basmalah lalu melemparkan dirinya.Saat itu pula Allah menurunkan malaikat-NYA yang memegang kedua ketiak pemuda itu sehingga dia jatuh dalam keadaan berdiri di atas kedua kakinya Ketika sampai di tanah.

Ia berkata:"ya Allah,bila Engkau berkehendak,Karuniakanlah kepadaku rizki hingga aku tak perlu lagi berdagang keranjang-keranjang."
Allah mengabulkan do'anya.

Allah mengirimkan untuknya sekawanan belalang yang terbuat dari emas,maka diambilnya sampai bajunya terisi penuh. Setelah itu dia berkata: "Ya Allah,bila ini merupakan rizki yang Engkau karuniakan kepadaku dari dunia ini, maka karuniakanlah untukku KEBERKAHAN di dalamnya. Tapi bila rizki ini akan mengurangi jatahku yang tersimpan di sisi-MU di akherat nanti,maka aku tidak membutuhkannya.

"Tiba-tiba terdengar suara yang mengatakan bahwa ini hanyalah satu dari dua puluh lima bagian pahala atas kesabaranmu menanggung derita saat melemparkan dirimu dari tempat yang tinggi itu.
Lalu dia berkata:"Kalau begitu Ya Allah,aku tidak membutuhkan sesuatu yang nanti akan mengurangi jatahku yang ada pada-MU di akherat"
Maka diambillah kembali emas2 itu oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.